Moment Analog Switch-Off (ASO) Siaran TV Analog Migrasi ke TV Digital

- Kamis, 1 Desember 2022 | 21:59 WIB
TV analog migrasi ke TV digital Kominfo. Foto/Kominfo. (Foto/Kominfo.)
TV analog migrasi ke TV digital Kominfo. Foto/Kominfo. (Foto/Kominfo.)

SEWAKTU.com -- Migrasi dari TV analog ke TV digital resmi diberlakukan. ini sekaligus menjadi moment Analog Switch-Off (ASO) Siaran TV analog yang telah mengudara selama hampir 60 tahun di Indonesia yang saat ini digantikan menjadi siaran TV digital.

Kebijakan tersebut tentu memuat berbagai urgensi. Pertama, teknologi sudah berkembang dari analog ke digital di mana digital lebih banyak keunggulannya. Di antaranya, tayangan yang lebih jernih, suara lebih bersih, dan secara umum kualitas yang diterima penonton menjadi lebih baik.

Kedua, saat ini kompetisi tidak hanya antar stasiun Televisi. Namun, juga dengan layanan berbayar digital seperti video on demand, video streaming, ataupun YouTube, Netflix, dan lainnya. Mau tidak mau, mereka sebagai lembaga penyiaran memigrasikan layanan ke digital.

Ketiga, demand dari masyarakat menuntut adanya perubahan ke digital. Sebab, ini adalah bentuk keniscayaan.

Rencana migrasi dari TV analog ke digital sebetulnya sudah lama direncanakan. Namun, sempat terhalang oleh regulasi. Setelah rencana ASO masuk ke UU Cipta Kerja, ada payung hukum untuk bermigrasi dari analog ke digital. Dalam UU tersebut juga tertuang batas akhir ASO ini pada 2 November 2022 lalu.

Baca Juga: Komisi I DPR RI Sosialisasi Analog Switch Off dam Bantuan Set Top Box ke Masyarakat

Implementasi siaran digital tentu memiliki poin plus dan minusnya. Dulu, penggunaan frekuensi pada analog sangat besar. TV digital diperlukan karena teknologi televisi analog yang dipakai stasiun televisi nasional memakan sumber daya yang besar pada spektrum 700 MHz.

Oleh karena itu, pemerintah ingin mengalihkan ke TV digital agar lebih efisien. Dengan efisiensi itu, akan lebih banyak lembaga penyiaran yang bisa menggunakan TV digital. Artinya, akan muncul lebih banyak keberagaman ownership lembaga penyiaran.

Diversity ownership maupun diversity of content makin beragam karena itu memang semangat dari UU Penyiaran.

Halaman:

Editor: Abdul Halim Trian Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X