SEWAKTU.com – Harga laptop 2026 mengalami lonjakan signifikan akibat krisis pasokan global dan meningkatnya permintaan teknologi, membuat banyak konsumen mulai panik dan berlomba membeli sebelum harga semakin tidak terkendali.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Gangguan rantai pasok chip global, tensi geopolitik di kawasan Asia Timur, hingga lonjakan kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan menjadi faktor utama yang mendorong harga komponen seperti RAM, SSD, dan prosesor terus merangkak naik.
Krisis Chip dan Perang Teknologi Jadi Pemicu Utama
Pasar teknologi global saat ini berada dalam tekanan besar. Lebih dari 90 persen produksi chip canggih dunia masih bergantung pada Taiwan, khususnya melalui pabrikan besar seperti TSMC.
Baca Juga: Terungkap Daftar EO Penerima Rp113 Miliar dari BGN, Publik Mulai Bertanya Ini Urgensinya Apa?
Ketegangan geopolitik antara China dan Amerika Serikat, ditambah potensi gangguan distribusi di Selat Taiwan, membuat rantai pasok menjadi rentan.
Situasi ini berdampak langsung pada industri laptop, di mana produsen harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, kebutuhan chip untuk server AI meningkat drastis. Produsen RAM dan SSD kini lebih memprioritaskan pasar data center dibandingkan konsumen biasa, sehingga suplai untuk laptop menjadi terbatas.
Harga RAM dan SSD Naik, Laptop Ikut Terdorong
Kenaikan harga komponen menjadi realitas yang tidak terhindarkan. RAM dan SSD yang sebelumnya relatif stabil kini mengalami kenaikan signifikan karena tingginya permintaan dari industri AI.
Kondisi ini membuat harga laptop entry-level sekalipun ikut terdorong naik. Bahkan, prosesor kelas menengah seperti Core i3 generasi terbaru dilaporkan sudah menyentuh harga distribusi di atas Rp10 juta, yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Fakta ini memperkuat kekhawatiran bahwa harga laptop di 2026 belum mencapai puncaknya.